Kurang Promosi, Warga Solo Minta Perusahaan Daerah TSTJ Lebih Inovatif

Kurang Promosi, Warga Solo Minta Perusahaan Daerah TSTJ Lebih Inovatif

HUMAS DPRD KOTA SURAKARTA – Kurangnya minat warga berkunjung ke Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Kota Surakarta, bukan karena taman satwa yang dikelola Perusahaan Daerah (PD) itu dianggap tidak menarik, melainkan karena kurangnya promosi.

 

Penilaian itu disampaikan sejumlah perwakilan Warga Kota Solo saat menghadiri Rapat Kerja Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surakarta yang mengagendakan Public Hearing Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pengurangan Penyertaan Modal Perusahaan Daerah (PD) Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Kota Surakarta, di  Graha Paripurna DPRD Kota Surakarta, Kamis (26/11/2020).

IMG_6712

Warga meminta Perusahaan Daerah TSTJ yang diberikan kewenangan mengelola taman satwa itu lebih gencar melakukan promosi melalui berbagai even, sehingga TSTJ lebih dikenal luas dan ramai dikunjungi masyarakat.

 

“Selama ini saya melihat secara pribadi, taman satwa jurug itu kurang promosi sebenarnya,”ujar Stevanus Warto dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Panularan Kota Solo.

 

Stevanus mengatakan, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam rangka mempromosikan TSTJ. Apalagi di masa pandemi ini, TSTJ dapat menggelar lomba atau kegiatan secara virtual, dan itu bisa dikerjasamakan dengan Dinas terkait.

 

Ia menyarankan, TSTJ mengajak  Dinas Pendidikan mengadakan kegiatan misalnya mengajarkan anak-anak cinta akan hewan liar atau cinta ternak. “Itu bisa divirtualkan dibuat lomba sehingga bisa menjadi ajang bahwa Kota Solo itu punya Satwa Jurug yang luar biasa,”kata Stevanus

 

Ia juga mengapresiasi langkah DPRD Kota Surakarta yang membahas Perda pengurangan penyertaan modal PD TSTJ. “Buat apa dana itu ngendap tapi tidak digunakan dengan baik. Makanya saya apresiasi DPRD yang membahas aturan soal itu,”ujarnya

 

“Saya berharap, masukan dari masyarakat terutama yang sudah saya sampaikan tadi untuk bisa digarap secara kreatif. TSTJ itu Kurang Promosi, Kurang Sosialisasi, sehingga banyak masyarakat itu yang kurang tahu. Image masyarakat yang sekarang ini, jurug ki yo koyo ngono kae. Tidak seperti itu,”ujar Stevanus menambahkan.

 

Sementara itu, Ketua Pansus, Honda Hendarto, yang memimpin public hearing itu berharap, pihak PD TSTJ dapat mengakomodir masukan dari tokoh masyarakat tersebut. “Saya berharap masukan dari tokoh masyarakat itu kedepan dapat direspon. Intinya marketing TSTJ lebih ditingkatkan,”tandas Politisi PDIP itu.

IMG_6695

Ia juga berharap, TSTJ berkoordinasi dengan terkait, seperti Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata untuk menggelar berbagai lomba di lokasi TSTJ agar lebih mengenalkan lebih dekat TSTJ kepada masyarakat.

 

“Karena TSTJ bukan hanya untuk edukasi wisata, tetapi di dalam banyak sekali yang bisa dijadikan pelajaran untuk anak cucu kita nanti, seperti satwa,”ujar Honda Hendarto didampingi Wakil Ketua Pansus Ardianto Kuswinarno.

 

TSTJ, lanjut Honda Hendarto sangat memungkinkan dijadikan lokasi berbagai even. Misalnya seperti lomba burung berkicau.

“Kalau Dinas Pariwisata atau Dinas Pertanian punya kegiatan, bisa dikerjasasamakan dengan Pak Bimo selaku Direktur TSTJ. Misalnya lomba burung berkicau. Lahannya sangat mencukupi dan mumpuni di TSTJ untuk mengadakan kegiatan tersebut. Oleh karena itu, komunikasi dan koordinasi perlu terus dibangun demi kemajuan Perusahaan daerah tersebut,”harapnya

 

Selain jajaran Direksi PD TSTJ, Public hearing itu juga dihadiri sejumlah LPMK Kota Surakarta, diantaranya, LPMK Panularan, Tipes dan Sumber.**

 

Jeprin S. Paudi

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *