SURAKARTA – DPRD Kota Surakarta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan libur Hari Raya Idul Fitri 2026. Hasilnya, kondisi Kota Solo selama periode Lebaran dinilai berlangsung aman, lancar, dan terkendali. Stabilitas harga bahan pokok terjaga, pelayanan publik berjalan baik, serta aktivitas ekonomi masyarakat menunjukkan tren yang positif.
Ketua DPRD Kota Surakarta, Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa kesiapan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta dalam menghadapi momentum mudik dan Lebaran sudah dilakukan secara matang sejak jauh hari. Hal tersebut disampaikannya saat ditemui di sela kegiatan Halal Bihalal di Rumah Dinas, Rabu (25/3).
“Kalau kita lihat dari awal, terutama terkait persiapan menghadapi mudik dan Lebaran, pemerintah kota sudah cukup siap. Mulai dari pemantauan kebutuhan pokok hingga ketersediaan sembako di pasar-pasar tradisional, semuanya relatif terjaga,” ujar Budi.
Ia menjelaskan, Pemkot memfokuskan pemantauan pada lima pasar tradisional utama yang dijadikan barometer ketersediaan bahan pokok di kota ini. Langkah tersebut dinilai efektif dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan pasokan tetap tersedia selama periode Lebaran.
“Fokus di lima pasar itu cukup membantu. Ketersediaan bahan pokok relatif aman, bahkan diperkirakan masih mencukupi sampai April. Ini tentu menjadi indikator bahwa distribusi dan pengendalian stok berjalan dengan baik,” jelasnya.
Selain itu, intervensi pemerintah melalui program pasar murah yang digelar di sekitar 15 kelurahan juga dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat. Program tersebut membantu menjaga daya beli warga di tengah meningkatnya kebutuhan selama bulan Ramadan hingga Lebaran.
“Pasar murah ini cukup efektif. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaannya lebih merata dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” kata Budi.
Dari sisi pelayanan dan pengamanan, DPRD juga menyoroti keberadaan posko terpadu yang beroperasi selama arus mudik dan balik Lebaran. Meski jumlahnya tidak sebanyak saat periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), fungsi dan pelayanannya dinilai tetap berjalan optimal.
“Kalau dibandingkan Nataru memang jumlah posko lebih sedikit. Saat Lebaran ini ada lima posko, termasuk yang terpusat di Benteng Vastenburg. Tapi secara fungsi, semuanya berjalan baik dalam mendukung kelancaran arus mudik dan balik,” ungkapnya.
Menurut Budi, sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, serta berbagai instansi terkait menjadi faktor penting dalam menjaga kondusivitas Kota Surakarta selama masa libur panjang tersebut.
Dalam evaluasinya, DPRD juga tidak menemukan catatan signifikan yang mengganggu jalannya perayaan Lebaran di Kota Bengawan. Secara umum kondisi kota tetap aman, distribusi logistik berjalan lancar, dan aktivitas masyarakat berlangsung normal.
“Kalau catatan khusus secara signifikan tidak ada. Semua relatif terkendali, baik dari sisi keamanan, distribusi logistik, maupun pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
Menariknya, Budi juga mencermati dinamika yang terjadi setelah Lebaran, khususnya di sektor perdagangan. Ia menyebut sejumlah pasar tradisional justru mengalami peningkatan jumlah pengunjung beberapa hari setelah hari raya.
Pasar Gede dan Pasar Klewer menjadi dua titik yang terlihat paling ramai. Banyak pemudik maupun perantau yang kembali berkunjung ke pasar-pasar legendaris di Solo untuk berbelanja sekaligus bernostalgia.
“Beberapa hari setelah Lebaran, pasar-pasar justru ramai. Banyak pemudik atau perantau yang datang, mungkin untuk bernostalgia karena pernah tinggal di Solo. Ini terlihat di Pasar Gede maupun Pasar Klewer yang cukup padat,” paparnya.
Fenomena tersebut dinilai menjadi indikator bahwa Kota Solo masih memiliki daya tarik yang kuat, baik sebagai kota budaya maupun pusat perdagangan tradisional.
Meski belum ada data resmi terkait nilai transaksi selama periode Lebaran, Budi menilai aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak cukup baik.
“Kalau secara angka kita belum bisa memastikan, tapi melihat kondisi di lapangan, aktivitas di pasar cukup ramai. Artinya perputaran ekonomi tetap berjalan dan relatif baik,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga daya saing Kota Solo dengan daerah lain di kawasan Solo Raya. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah terus melakukan pembenahan infrastruktur serta pengembangan destinasi wisata.
“Kita harus tetap kompetitif. Beberapa tempat seperti Balekambang yang kemarin digunakan untuk berbagai kegiatan juga perlu terus dibenahi agar semakin menarik,” ujarnya.
Di sisi lain, Budi menyoroti tantangan yang akan dihadapi pemerintah daerah ke depan, terutama terkait kondisi fiskal daerah. Ia menyebut adanya kebijakan dari pemerintah pusat yang berdampak pada penurunan transfer ke daerah (TKD) mulai tahun 2026.
“Kita sedang menghadapi kondisi anggaran yang cukup menantang. Sejak 2025 sudah ada kebijakan dari pusat, lalu 2026 ada penurunan TKD. Ini harus disikapi dengan pengelolaan anggaran yang lebih efektif dan efisien,” terangnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya optimalisasi program pembangunan serta penentuan prioritas yang tepat agar pelayanan kepada masyarakat tetap maksimal meski dengan keterbatasan anggaran.
“Kita harus benar-benar memaksimalkan anggaran yang ada. Program-program harus tepat sasaran dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” tandasnya.
Arifin Rochman



