Wayang Kulit Warnai Peringatan Sumpah Pemuda, DPRD Kota Surakarta Ajak Masyarakat Kobarkan Semangat Membangun Bangsa

2 November 2026 | oleh Admin DPRD
Icon

SURAKARTA – Semangat persatuan dan pembangunan bangsa tidak hanya dapat disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui seni dan budaya. Hal inilah yang dihadirkan DPRD Kota Surakarta melalui pagelaran wayang kulit di Segaran, Taman Sriwedari, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Sabtu Malam (31/10).

Mengusung lakon “Bangun Candi Sapto Argo” dengan tema “Semangat Membangun Bangsa”, pagelaran yang menghadirkan dalang Ki Purbo Asmoro tersebut menjadi perpaduan antara pelestarian seni tradisional dan penyampaian pesan kebangsaan kepada masyarakat.

Lakon yang ditampilkan mengandung filosofi mendalam tentang makna pembangunan. Tidak sebatas membangun secara fisik melalui penyediaan infrastruktur dan sarana prasarana, pembangunan juga harus menyentuh aspek mental, batin, karakter, serta pola pikir masyarakat.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Surakarta, YF Sukasno, menyampaikan bahwa pesan utama yang ingin diangkat melalui lakon tersebut adalah pentingnya membangun kehidupan secara menyeluruh. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa membutuhkan keseimbangan antara pembangunan fisik dan penguatan kualitas manusia.

“Bangun kahanan secara filosofis, bangun mental, bangun semuanya. Kalau secara harfiah kita harus bersemangat untuk melakukan pembangunan secara fisik. Tapi secara filosofis kita harus bangun batin, bangun daya pikir, dan sebagainya untuk menuju yang terbaik,” ujar YF Sukasno.

Lebih lanjut, Sukasno mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagaimana yang diajarkan Bung Karno. Menurutnya, gotong royong merupakan landasan penting dalam mewujudkan pembangunan di berbagai bidang, termasuk pembangunan mental, karakter, dan integritas masyarakat.

“Ajaran Bung Karno, kalau kita mau gotong royong, pembangunan di segala bidang akan terwujud. Termasuk pembangunan mental, karakter, dan kejujuran. Ini yang sangat penting, yaitu kejujuran,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa kejujuran menjadi salah satu nilai mendasar yang harus senantiasa dijaga dan ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan semangat gotong royong yang disertai karakter dan integritas, pembangunan diharapkan tidak hanya menghasilkan kemajuan secara fisik, tetapi juga membentuk masyarakat yang memiliki kualitas moral dan tanggung jawab bersama.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Kemajuan tidak hanya diukur dari perkembangan fisik suatu wilayah, tetapi juga dari kualitas mental, pemikiran, karakter, dan kehidupan masyarakatnya.

Pemanfaatan seni pewayangan sebagai media penyampaian pesan juga memiliki nilai tersendiri. Selain menjadi hiburan yang dapat dinikmati berbagai kalangan, wayang kulit merupakan warisan budaya yang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Kota Surakarta.

Ketua DPRD Kota Surakarta, Budi Prasetyo, mengatakan bahwa penyelenggaraan pagelaran wayang kulit merupakan bagian dari komitmen DPRD untuk terus menghadirkan kegiatan seni dan budaya bagi masyarakat. Upaya tersebut sekaligus menjadi wujud kepedulian lembaga legislatif terhadap keberlangsungan budaya lokal.

Budi menjelaskan, DPRD Kota Surakarta sebelumnya juga pernah menggelar kegiatan serupa yang dipadukan dengan pameran keris dan pagelaran wayang kulit. Pada tahun ini, meskipun waktu persiapan relatif terbatas, kegiatan tetap dapat terlaksana berkat kerja sama panitia bersama Sekretariat DPRD Kota Surakarta.

Ke depan, Budi berharap pagelaran budaya semacam ini dapat menjadi agenda yang terus berlanjut setiap tahunnya. Bahkan, lokasi penyelenggaraan memungkinkan untuk berpindah agar semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati kegiatan tersebut.

“Harapannya mungkin di tahun depan kita juga akan terus mengadakan kegiatan ini. Ini sebagai wujud kecintaan kita DPRD Kota Surakarta terkait budaya yang ada di Kota Surakarta yang memang harus kita lestarikan,” kata Budi Prasetyo.

Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum. DPRD ingin memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menikmati pertunjukan sekaligus semakin mengenal seni pewayangan sebagai salah satu kekayaan budaya Kota Surakarta.

Pemilihan Segaran, Taman Sriwedari, sebagai lokasi pagelaran juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan budaya di ruang publik yang menjadi milik masyarakat. Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, tetapi dapat diakses oleh masyarakat luas.

Melalui momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, pagelaran wayang kulit ini diharapkan mampu memperkuat kembali nilai persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

DPRD Kota Surakarta berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai hiburan semata, melainkan menjadi ruang untuk merawat identitas budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

Melalui lakon Bangun Candi Sapto Argo, pesan tentang pentingnya pembangunan fisik yang diimbangi pembangunan mental, karakter, dan kejujuran disampaikan dalam balutan seni pewayangan.

Sebab, membangun bangsa bukan hanya tentang menciptakan kemajuan hari ini, tetapi juga memperkuat kebersamaan, menjaga nilai-nilai luhur, serta melestarikan warisan budaya agar tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi mendatang.

Arifin Rochman