Minggu , 20 Agustus 2017

Waka Banggar Soroti Keinginan Pemkot Akuisisi Rumah Lowo untuk Museum Batik

Wakil Ketua Banggar DPRD Kota Surakarta M Rodhi menyoroti tajam keinginan Pemkot mengakuisisi Rumah Lowo, yang akan disulap sebagai museum batik. Untuk kepentingan penguasaan rumah kuno yang sudah tercatat sebagai salah satu benda cagar budaya itu, Pemkot akan mengalokasikan dana Rp 15 miliar lewat APBD Perubahan 2014.

” Kami perlu mengetahui terlebih dulu, kenapa eksekutif getol ingin membeli rumah Lowo yang berada di perempatan Purwosari itu, yang disebut-sebut akan dialihfungsikan sebagai museum batik. Sebab berbicara soal batik, Pemkot sudah lebih dari cukup melakukan berbagai upaya pembenahan dan penataan kampung batik Laweyan maupun Kauman. Bahkan pembinaan untuk sentra kerajinan batik, dan dua museum batik milik pihak ketiga,” ungkap Rodhi kepada Penulis DPRD Online, Rabu ( 23/4).

Ia paparkan, apa yang disampaikan Sekda Budi Suharto terkait obsesi untuk mendirikan museum batik di Rumah Lowo, sejauh ini belum memadai. Sebabnya, dari yang diuraikan di publik itu, belum ada kejelasan konsepnya, dan tidak memberikan gambaran, apakah museum batik itu memang menjadi kebutuhan atau sekadar ingin pamer.

Yang terang, Rodhi menambahkan, keberadaan Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan, Pasar Klewer, serta sejumlah rumah produksi batik, berikut museum batik milik pihak ketiga yang ada, selama ini sudah menjadi branding kuat, tentang Solo atau Surakarta sebagai kota Batik. Semua tempat itu sudah menjadi ikon kota Solo, dan sekaligus mengenalkan sebagai kota gudang batik.

” Nanti saat eksekutif lewat TAPD mengajukan anggaran, akan kita tanyakan secara detik, yang menyangkut pertanyaan atau why, kenapa Rumah Lowo hendak dibeli dan dijadikan museum batik. Dari penjelasan, baru kita akan berikan jawaban patut diberi atau ditolak,” tandas dia tentang penjelasan Sekda Budi kepada publik itu.

Sekda Budi Suharto dalam penjelasan mengatakan, Pemkot serius ingin mengambil alih kepemilikan omah lawa, yang nantinya akan dimanfaatkan menjadi museum batik.Untuk kepentingan itu, disediakan dana hingga Rp15 miliar .

“Sudah ada gagasan untuk membeli omah lawa. Kalau tidak ada halangan, dana akuisisi dialokasi di APBD Perubahan 2014 sekitar Rp10 miliar-Rp15 miliar. Ini dhawuhnya Pak Wali ( Walikota FX Hadi Rudyatmo,” ucap Budi kepada wartawan. ( K )

Related posts

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *