Rabu , 20 September 2017

Tanggulangi Sebaran HIV/Aids, Dinkes Harus Koordinasi dengan KPA

Kalangan Komisi IV meminta Pemkot Surakarta lebih serius di dalam menanggulangi penyebaran virus HIV/Aids yang dilakukan oleh para pekerja seks komersial ( PSK ) bebas yang bertebaran di sejumlah wilayah kota. Sangat diinginkan koordinasi antara Dinas Kesehatan Kota dengan Komisi Penanggulangan Aids ( KPA ) berlangsung intensif, agar korban tidak semakin berjatuhan.

” Jika mendengar paparan KPA Kota Surakarta, kita miris. Karena pekerja seks masih berkeliaran bebas, seolah luput dari pengawasan, sehingga banyak yang tidak terpantau. Mestinya ada operasi rutin, agar penyakit masyarakat yang menularkan HIV/Aids bisa ditekan seoptimal mungkin,” tukas anggota Komisi IV, Reny Widyawati kepada Penulis DPRD Online, Selasa ( 29/4).

Penegasan anggota Komisi Kesehatan DPRD Kota Surakarta ini sebagai respon atas pengungkapan KPA Kota Solo yang menyebutkan, bahwa jumlah PSK yang beroperasi di kota ini cukup banyak, yakni mencapai 700 orang. Celakanya, hanya 395 yang terpantau dan terlayani KPA.

” Sementara yang 305 orang tidak terlayani. Meski kebanyakan dari PSK bukan warga kota, namun karena mereka beroperasi di sini, ya harus diwaspadai, penyebaran HIV/Aids menakutkan,” tukas pengelola program KPA, Tomy Prawoto.

Dia paparkan, para PSK dari berbagai daerah itu selama ini terkonsentrasi di beberapa lokalisasi seperti di Gilingan, Kestalan, Setabelan, dan Punggawan. Banyak di antara mereka sadar akan virus berbahaya dan mematikan tersebut, sehingga rutin memeriksakan di sejumlah layanan voluntary conseling test ( VCT )

“Di Solo, pelayanan VCT tersedia di UPTD Puskesmas Manahan, Setabelan, Sangkrah, Kratonan, RSUD dr. Moewardi, RS dr. Oen, RSUD Ngipang, serta Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Solo, dan PMI Solo. Ini memudahkan mendeteksi penyakit menular seksual,” tandas Tomy lagi. ( K )

Related posts

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *