Selasa , 27 Juni 2017

Komisi III Ingatkan Dinkop & UMKM Waspadai Koperasi Bodong

Komisi III DPRD Kota Surakarta mengingatkan Dinas Koperasi dan UMKM Kota supaya lebih ketat lagi mengawasi kegiatan koperasi di kota ini, seiring banyaknya koperasi bodong, yang memburu dana bantuan pemerintah untuk kemudian cepat-cepat tutup alias menghilang pengurusnya.

” Ya ini bukanya hanya di kota Surakarta saja, melainkan banyak terjadi di daerah lain. Banyak yang mengelabui dengan dokumen perizinan yang komplit, tetapi memiliki motif hanya menburu dana pemerintah.Kami ingatkan,Dinas Koperasi dan UMKM  harus lebih awas, agar lebih mampu mengantisipasi dan tidak tertipu lagi,” ujar Abdullah AA, anggota Komisi III yang kebetulan juga Ketua Pansus Koperasi kepada Penulis DPRD Online, Senin ( 28/4).

Apalagi lanjut dia, bantuan dana hibah sejauh ini masih terus dialokasikan lewat APBD. Meskipun besarannya tidak terlalu besar, hanya Rp 1 miliar. Namun kalau yang memanfaatkan adalah koperasi yang sudah diteliti secara benar perizinan, keanggotaan dan kegiatannya, tentu akan lebih berdaya guna.

” Jangan terus-terusan kena telikung, meski dari sisi SDM ahli, SKPD memang kekurangan tenaga. Tetapi ini memang sebuah keharusan, selain pengawasan, masih ada pengawalan dalam bentuk pembinaan. Nanti jika hasil kerja Pansus Koperasi yang tertunda ini jalan lagi dan menghasilkan Perda, diharapkan akan lebih mampu memberdayakan derap koperasi secara kongkrit. Apalagi lagi nanti semua koperasi harus berbadan hukum, jadi tidak mudah menipu lagi,” tegas politisi Partai Hanura yang juga ketua FNIR ini.

Pada bagian lain, Sekda Budi Suharto mengakui, Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Dinkop UMKM) Kota meski gigih dalam pengawasan tetapi tidak menjangkau melakukan pengawasan terhadap seluruh koperasi yang ada. ” Banyak yang mati suri atau abal-abal, begitu dapat bantuan terus menghilang,” tutur  Budi.

Saat ini hanya 30% koperasi dari 536 lembaga koperasi di kota Surakarta yang tergolong sehat. Sedangkan sisanya mengalami permasalahan seperti minimnya partisipasi anggota dan kredit macet. Dia tidak menampik keberadaan koperasi bodong turut menambah jumlah koperasi yang mati suri di Solo.

Koperasi abal-abal ini terbentuk saat ada program yang mengucurkan bantuan bagi koperasi. Selepas mendapat bantuan, imbuhnya, koperasi langsung tutup buku dan mengabaikan anggota. “Indikasi keberadaan koperasi nakal cukup kuat. Mereka semata-mata berdiri untuk mengambil bantuan pemerintah,” imbuhnya dengan nada prihatin. ( K )

Related posts

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *